me, my self and mine

Katanya, menulis itu merapikan kenangan.

Pada Akhirnya

Pada akhirnya, Tuan, saat kau masih terlihat di media sosial, meski tak sedikitpun kau ingin berkomunikasi denganku, maka rasanya tidak apa-apa. Setidaknya aku masih bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa kau baik-baik saja.

Islam itu indah, kan? Betapa Tuhan selalu mengajarkan lewat rasul-Nya, melalui kitab-Nya, yang terbentang di seluruh semesta dan seisinya. Tapi kami, yang seringkali merasa sebagai umat paling sholeh, paling pintar, paling beriman, justru tak pernah sedikitpun merefleksikan keindahannya dalam diri kami. Maafkan kami, Allah. Maafkan kami. Betapa kami ini begitu dungu. – View on Path.

Islam itu indah, kan? Betapa Tuhan selalu mengajarkan lewat rasul-Nya, melalui kitab-Nya, yang terbentang di seluruh semesta dan seisinya. Tapi kami, yang seringkali merasa sebagai umat paling sholeh, paling pintar, paling beriman, justru tak pernah sedikitpun merefleksikan keindahannya dalam diri kami. Maafkan kami, Allah. Maafkan kami. Betapa kami ini begitu dungu. – View on Path.

agaknya, tuan, hujan kini tak lagi tabah merahasiakan rintik rindunya. disapanya kita yang telah jauh terpisah jarak; terbuang waktu sia-sia.

Juni, 2014

Jangan sampai kebencian membuat kita malas mencari tahu, Nak. Jangan sampai kita hanya fokus untuk membaca apa yang INGIN kita baca, lalu menutup mata pada apa-apa yang HARUS kita baca. Jangan pernah kaubiarkan kebencian mengambil alih hidupmu.

ayahku, di sebuah pagi yang kaku.

Selamat datang, Ramadhan. Selamat datang, sekali lagi. Terima kasih telah sedia temui kami kembali. 

Dengan ini juga saya sungguh memohon maaf atas semua kesalahan yang pernah saya sengaja, juga atas segala perbuatan dan ucapan saya yang tanpa sengaja telah menyakiti hati orang-orang di sekitar saya. Semoga kita semua bisa memanfaatkan Ramadhan tahun ini dengan sebaik-baiknya. Fastabiqul khairat, seru-Nya. 
Lagipula, tidak ada jaminan kita akan bertemu lagi dengannya di tahun-tahun berikutnya, kan?

Selamat tanggal 1 Ramadhan 1435 H… – View on Path.

Selamat datang, Ramadhan. Selamat datang, sekali lagi. Terima kasih telah sedia temui kami kembali.

Dengan ini juga saya sungguh memohon maaf atas semua kesalahan yang pernah saya sengaja, juga atas segala perbuatan dan ucapan saya yang tanpa sengaja telah menyakiti hati orang-orang di sekitar saya. Semoga kita semua bisa memanfaatkan Ramadhan tahun ini dengan sebaik-baiknya. Fastabiqul khairat, seru-Nya.
Lagipula, tidak ada jaminan kita akan bertemu lagi dengannya di tahun-tahun berikutnya, kan?

Selamat tanggal 1 Ramadhan 1435 H… – View on Path.

Aku, Kau, Dia, dan Permainan Petak Umpet.

Mencintaimu, Tuan, ada kalanya seperti bermain petak umpet.

Kita bertiga—kau, aku, dan dia—memutuskan untuk mengenang masa kecil, sekadar melepas penat, sekaligus bernostalgia. Hey, kali ini giliran kau yang jaga! Hitungan satu, dua, tiga, kau mulai mencari kami berdua. Tapi tiba-tiba kau berputar arah. Teringat sesuatu, mungkin?

(Kau tahu, ada kalanya aku membenci firasatku sendiri. Untuk beberapa hal, aku kerap berharap apa-apa yang kupikirkan tidaklah benar. Aku pernah meminta begitu pada Tuhan, tapi sayangnya tak pernah dikabulkan.)

Lihatlah kini, dalam labirin pikiranmu yang rumit, tak lagi ada permainan konyol itu. Oh, mungkin masih, tapi hanya antara kau dan dia. Aku, yang sebelumnya juga ikut bermain, menghilang entah ke mana. Lalu, dengan segigih mungkin, kau mencari di mana kau bisa menemukannya. Kau hanya ingin menemukannya.

Sedang aku, tak jauh dari tempatmu berdiri, masih saja setia bersembunyi. Belajar menahan degup yang tak pernah mengenal malu tiap kali melihatmu. Berdoa dalam tundukku yang hambar agar debar ini tak terdengar.

Ah, benar. Sia-sia saja rupanya berdoa. Kau tak lagi mengingat bahwa aku ada, kan? Bahkan hingga saat kau telah memenangkan permainan dan tertawa bahagia bersamanya.


: Aku, di sini, masih saja sendirian, menahan degup yang (masih saja) tak beraturan.

"Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri."

Sungguh tulisan ini indah banget, Andi Gunawan. – View on Path.

"Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri."

Sungguh tulisan ini indah banget, Andi Gunawan. – View on Path.

Perih(al) Bahagia yang Sempat Menjadi Milik Kita

Mari kita meramu kisah, Tuan, tentang bahagia yang dulu selalu menjadi milik kita. Adalah hujan yang menjadi saksi tiap-tiap pertemuan, yang hingga hari ini masin berputar dalam ingatan. Adalah taman kota itu yang menjadi satu-satunya tempat yang paling paham, juga paling mengerti betapa mudahnya masing-masing keegoisan kita bisa teredam.

Adalah semesta yang paling tahu, betapa aku mencintaimu dari dulu.

… bahkan hingga kini, Tuan. Hingga tiada lagi kudengar namamu disebut. Tidakkah dunia terasa kejam? Begitu cepat orang baik sepertimu dilupakan. Tenanglah… Tenanglah di keabadian. Maukah kau menungguku dengan tabah? Biar kuselesaikan dulu semua urusan, hingga nanti tak perlu ada penyesalan.

Maaf… Maafkan aku yang mencintaimu dengan keras kepala.

Maaf… Maafkan aku yang mencintaimu dengan keras kepala.

Kau tak pernah menjadikanku pilihan, kan? Tidak yang utama, tidak pula yang kesekian…

Kau tak pernah menjadikanku pilihan, kan? Tidak yang utama, tidak pula yang kesekian…