me, my self and mine

Katanya, menulis itu merapikan kenangan.

"Cah Angon" Joko Widodo

fahdpahdepie:

image

… dia bukan keturunan bangsawan, bukan kiai, juga bukan jenderal. Dia orang biasa dengan garis keturunan biasa. Namanya Joko Widodo. Pedagang meubel yang menjadi walikota Solo, kemudian Gubernur Jakarta, dan hari ini dilantik jadi Presiden Indonesia.


Semoga dia bisa menjadi cah…

Selamat, Bapak Presiden. :-)

Dik, naskah ini akan kuselesaikan untukmu. Tunggulah. Temani aku hingga tua, ya? :)

Dik, naskah ini akan kuselesaikan untukmu. Tunggulah. Temani aku hingga tua, ya? :)

Beberapa Hal yang Membuatku Begitu Sulit Leburkan Kenangan Meski Telah Terpisah Waktu dan Jarak yang Teramat Jauh #30HariMenulisPuisi #day18

Beberapa Hal yang Membuatku Begitu Sulit Leburkan Kenangan Meski Telah Terpisah Waktu dan Jarak yang Teramat Jauh #30HariMenulisPuisi #day18

Mungkin bagimu,
aku tak ubahnya seperti hujan yang turun tiba-tiba,
ketika kau tengah berkendara
bersamanya;
yang seringkali kauumpat dan kauhujat, karena mengotori mobilmu yang baru saja kaucuci, dan kau teramat takut dia akan kesal;
yang kau abaikan, yang kauacuhkan, sebab sudah ada dia di sampingmu, dan bagimu itu cukup;
yang terkadang juga kausyukuri, karena dengan kehadiranku, kaubisa mengulur waktu lebih lama bersamanya.


Semua hanya tentangnya, kan? Sementara aku di sini, perlahan hilang, memudar tanpa jejak.

mereka bilang itu luka, tapi bagiku sama saja. #30HariMenulisPuisi #Day3

mereka bilang itu luka, tapi bagiku sama saja. #30HariMenulisPuisi #Day3

aku selalu baik-baik saja. setidaknya begitu yang harus kalian lihat.
Ibu, lagi-lagi aku merasa sendiri di tengah ramai. Aku harus bagaimana, Bu?

Aku harus bagaimana…

Maafkan Aku, Ibu…

Maafkan aku, Ibu. Kali ini aku tidak mendengar nasihatmu, untuk yang kesekiankalinya. Aku biarkan suara dari headset itu memenuhi kepalaku. Padahal aku ingat sekali ucapmu kala itu… “Jangan lagi kaudengarkan musik itu dengan volume maksimal, Nak. Apalagi jika kau menggunakan headset. Telingamu bisa rusak. Ibu tidak mau anak ibu menjadi tuli. Ibu tidak mau orang-orang di luar sana harus bersuara keras setiap kali harus berbicara denganmu. Ibu tidak mau mereka ‘menghardikmu’… apalagi nanti, saat ibu telah tiada.”


Maafkan aku, Ibu, sebab telah kulanggar lagi nasihatmu … karena kukira, kini itulah satu-satunya cara yang mampu hilangkan semua duka. Aku hanya ingin menyaingi ributnya kepalaku yang terus mengejekku, Bu. Mereka terlalu ribut, dan aku benci sekali. Mereka membuatku membenci diriku sendiri. Mereka membuatku membenci segala yang terjadi di hidupku, dan aku tidak suka mendengarkan mereka. Aku tidak ingin jadi manusia yang tidak mengerti rasa syukur.

Aku ingin melupakan masalahku, Ibu, dengan mendengarkan musik sekeras mungkin di telingaku.

Maafkan aku, Ibu. Maafkan jika anakmu terlalu pengecut.